Cari Blog Ini

tubagus fauzanul hakim

time

Kamis, 08 Maret 2012

tugas manajeman keuangan



Nama: tubagus fauzanul hakim
Kelas : 2ea15
Npm: 16210997

1.   Jenis laporan keuangan utama dan pendukung laporan keuangan terdiri atas :
  • Daftar Neraca yg menggambarkan posisi keuangan perusahaan pada suatu tanggal tertentu.
  • perhitungan Laba/Rugi yg menggambarkan jumlah hasil Biaya dan Laba/Rugi perusahaan pada suatu periode tertentu.
  • Laporan Sumber dan Penggunaan dana. Di sini dimuat sumber dan pengeluaran perusahaan selama satu periode
  • Laporan Arus Kas. Disini digambarkan sumber dan penggunaan kas dalam suatu periode.
  • Laproan harga pokok produksi yg menggambarkan berapa dan unsur apa yg diperhitungkan dalam harga pokok produksi usatu barang.
  • Laporan Laba Ditahan menjelaskan posisi laba ditahan yg tak dibagikan kepada pemilik saham.
  • Laporan Perubahan modal menjelaskan perubahan posisi modal baik saham dalam Perseroan Terbatas atau Modal dalam perusahaan perseroan.
Laporan keuangan yang lengkap terdiri dari komponenkomponen berikut ini:
a) neraca,
b) laporan laba-rugi,
c) laporan perubahan ekuitas,
d) laporan arus kas,
·         Neraca (Balanced),
yaitu laporan secara systematis yang menggambarkan posisi keuangan dari suatu perusahaan meliputi Assets (harta), Liabilities (hutang) dan Capital (modal). Bentuk neraca  harus memenuhi persamaan akuntansi  dan umumnya bebentuk:
·         Skontro/Horizontal. Dalam bentuk ini aktiva (harta) diletakan disebelah kiri sedangkan passiva (liabities+modal) diletakan disebelah kanan
·         Report form/Laporan. Dalam bentuk ini aktiva (harta) diletakan disebelah atas sedangakan passiva (liabities+modal) diletakan disebelah bawah
·         Laporan perubahan Modal (Capital Statement)  yaitu laporan yang menggambarkan akibat adanya selisih perhasilan dengan biaya dan unsur lainnya misalnya tambahan investasi (additional investment) atau pengambilan (withdrawals).
·         Masih terdapat bentuk lain asalkan tidak menyimpang dari persamaan akuntansi.
·         Neraca umumnya dibuat pada akhir periode akuntansi (akhir tahun) dan akhir periode (bulanan) dan dalam system akuntansi komputer neraca dapat dususun setiap saat bila diperlukan dan metode akuntansi perpetual memungkinkan neraca dapat divisual setiap saat.
·         Laporan Rugi laba (income statement)
yaitu laporan systematis yang menggambarkan selisih penghasilan (reveneus) dengan Biaya (Expenses)
·         Analisa Transaksi
·         Analisa Laporan Keuangan
·         Analisa Rugi laba
·         Analisa Neraca
Contoh Laporan Keuangan Perusahaan Dagang

Laporan rugi/laba
PT. ABCD
Untuk periode berakhir 31 Desember 1999

Pendapatan:


  Penjualan

10,000,000
Harga pokok penjualan:


  Persediaan awal
2,000,000

  Pembelian
7,000,000

  Tersedia untuk dijual
9,000,000

  Persediaan akhir
3,000,000

  Harga pokok penjualan

6,000,000
Laba kotor

4,000,000
Biaya operasional:


  Biaya komisi
500,000

  Biaya transportasi
100,000

  Biaya listrik, telpon, air
600,000

  Biaya gaji pegawai
1,200,000

  Biaya penyusutan bangunan
300,000

  Biaya penyusutan inventaris
   200,000

Total 

2,900,000
Laba operasi

1,100,000
Biaya bunga 

    100,000
Laba sebelum pajak

1,000,000
Biaya pajak

   200,000
Laba/(rugi) bersih

   800,000

Di bawah ini adalah contoh neraca pada perusahaan dagang pada umumnya.

Neraca
PT. ABCD
Per 31 Desember 1999
Aktiva


Aktiva lancar:


Kas

1,000,000
Piutang usaha

5,000,000
Uang muka pembelian

500,000
Persediaan barang

  3,000,000
Total aktiva lancar

9,500,000
Aktiva tetap:


Tanah 

50,000,000
Bangunan
20,000,000

Akumulasi penyusutan-bangunan
(5,000,000)
15,000,000
Inventaris kantor
2,000,000

Akumulasi penyusutan-inventaris
   (500,000)
  1,500,000
Total aktiva tetap

66,500,000
Total aktiva

76,000,000



Hutang


Hutang lancar:


Hutang dagang

2,000,000
Hutang gaji

500,000
Biaya yang masih harus dibayar

1,000,000
Total hutang lancar

3,500,000
Hutang jangka panjang:


Hutang bank 

20,000,000
Total hutang jangka panjang

20,000,000
Total hutang

23,500,000



Modal


Modal disetor

40,000,000
Laba ditahan

12,500,000
Total modal

52,500,000
Total hutang dan modal

76,000,000

2.      EBITDA
 adalah singkatan dari "earnings before interest, taxes, depreciation and amortization", kata-kata ini sering digunakan sebagai alat pengukur nilai sebuah bisnis. Pada artikel ini akan ditujukan bagaimana EBITDA membantu investor menciptakan perbandingan antar instrumen investasi.
EBITDA digunakan untuk menganalisis profitabilitas operasi sebuah perusahaan sebelum beban non operasi (seperti bunga dan beban lainnya) dan depresiasi serta amortisasi. Melalui pengalian bunga, pajak, depresiasi dan amortisasi akan membuat perusahaan yang tidak profit tampak sehat. Seperti contoh, dotcom yang mencontohkan perusahaan tanpa harapan, tanpa masa depan serta tanpa pendapatan tetapi manakala ia menggunakan EBITDA sebagai pengukuran kesehatan perusahaan, sebagai hasilnya telah menunjukan perusahaan terlihat atraktif dan profitable.
Perkembangan penilaian bisnis
Penjualan perdana 20% saham Krakatau Steel yang konon setara dengan Rp3,155 milyar saham di pasar modal ini diperkirakan menghasilkan dana sebesar Rp2,6 trilyun yang dinilai akan menyebabkan tergadainya aset negara ke tangan asing seperti terjadi pada penjualan saham Telekom dan Indosat yang jatuh ke tangan negara tetangga kita Singapura dan Malaysia. Bahkan privatisasi ini dinilai akan menjadi bencana, karena akan menghancurkan industri strategis di negara kita yang pada smester I tahun ini dikabarkan  mendulang laba sebesar Rp1 trilyun. Polemik tersebut telah demikian meramaikan pasar corporate control, suatu pasar untuk jual beli saham perusahaan.
Sebelum berkembang disiplin ilmu penilaian bisnis, penilaian atas penyertaan, corporate control atau business interest dilakukan oleh para akuntan dengan menggunakan berbagai variabel akuntansi yang dianggap relevan seperti Earnings Before Interest, Taxes, Depreciation, and Amortization (EBITDA); Return on Investment (ROI); Return on Equity (ROE); Earnings per Share (EPS); atau Dividen. Namun, berdasarkan bukti-bukti empiris yang diperoleh dan riset yang pernah dilakukan memperlihatkan bahwa berbagai variabel akuntansi tersebut ternyata mempunyai pengaruh yang kecil dalam penciptaan nilai tambah terhadap harga saham perusahaan. Dari data empiris di Bursa Efek Indonesia memperlihatkan bahwa walaupun dividen yang dibayarkan sangat kecil namun harga sahamnya tetap tinggi atau naik terus karena investor terus memburunya. Sebaliknya suatu emiten yang menghasilkan earning yang besar harga sahamnya ternyata tidak mengalami peningkatan secara signifikan. Bahkan banyak bukti menunjukkan bahwa pada saat earning atau dividen yang dibagikan itu turun harga sahamnya justru naik misalnya dikarenakan adanya pengumuman rencana peningkatan investasi atau rencana penambahan capex (capital expenditure) perusahaan. Oleh karena itu, metode penilaian dalam memperkirakan nilai pasar wajar (fair market value) atau harga suatu saham atau business interest dengan menggunakan accounting measures kemudian ditinggalkan dan dinyataakan tidak valid dan kemudian digantikan dengan penilaian usaha/bisnis.
Penilaian usaha bermula dan berkembang dari intangible property appraisal, kemudian berkembang dan sangat dipengaruhi oleh corporate finance dan security analysis. Metode penilaian yang semata-mata didasarkan pada pandangan keuangan ternyata tidak dapat diaplikasikan pada setiap kondisi perusahaan, sedangkan dalam penilaian intangible property terdapat metode yang dapat digunakan dalam penilaian usaha yang melengkapi metode berdasakan pandangan keuangan. Kondisi itulah yang kemudian mendorong berkembangnya disiplin penilaian usaha yang lazim disebut business valuation. Kebutuhan atas business valuation adalah untuk penilaian business ownership interest yaitu penilaian atas kepemilikan, kewenangan atau kepentingan perusahaan  yang dalam bahasa yang popular dikenal dengan istilah saham atau ekuitas perusahaan baik secara parsial (partial interest) baik minoritas ataupun majority atau controlling interest ataupun seluruh saham (100% undivided interest). Dalam penilaian usaha dikenal Equity Model dan Invested Capital Model. Dalam model pertama maka cash flow yang tersedia untuk ekuitas dikonversi dengan cost of equity menjadi nilai ekuitas sedang dalam model yang kedua  cash flow yang tersedia untuk capital dikonversi dengan weighted average of capital (WACC) atau biaya rata-rata tertimbang menjadi nilai capital (nilai perusahaan/firm value). Yang selalu harus dibedakan dengan konsepsi akuntansi adalah bahwa dalam penilaian bisnis semua penerimaan maupun pengeluaran yang tidak wajar dan tidak bersifat operasional dilakukan penyesuaian (di-normalizing) sehingga penetapan nilainya hanya benar-benar didasarkan dari kemampuan operasionalnya menghasilkan pendapatan.
Penilaian IPO Krakatau Steel
Dalam proses IPO Krakatau Steel kabarnya menggunakan PT (Persero) Danareksa dan PT Mandiri Security sebagai underwriter atau sebagai perusahaan penjamin. Disamping perusahaan penjamin, maka dalam proses IPO biasanya juga menggunakan perusahaan penunjang pasar modal lain seperti perusahaan penilai (KJPP), akuntan publik dan juga penasihat hukum. Namun, dalam penetapan nilai saham apakah tetap dilakukan oleh underwriter ataukah oleh business valuer ini yang tidak jelas walaupun logikanya dan secara yuridis formal penilai-lah yang seharusnya melakukannya. Namun, terlepas dari permasalahan itu estimasi nilai saham tentunya tidak akan dilakukan secara sembarangan, melainkan menggunakan keahlian para professional yang lazim dipraktekan sesuai dengan ketentuan Bapepam-LK. Dari pendekatan yang dikenal lazim dalam penilaian bisnis yang terdiri dari pendekatan aset, pendekatan pasar dan pendekatan income. Dalam pendekatan pasar, maka indikasi nilai ditentukan berdasarkan data transaksi yang pernah terjadi sebelumnya atas suatu business interest dari perusahaan sepadan dan sebanding. Pendekatan pasar ini didasarkan pada prinsip substitusi dan asumsi bahwa transaksi yang bersifat arm's length dari business interest yang sepadan dan sebanding dapat menyajikan bukti empiris yang kuat tentang nilai pasar dari business interest tersebut. Penilaian dengan pendekatan pasar dapat dibagi ke dalam 3 metode:
a.   Metode guideline publicly traded company, suatu metode yang menghubungkan multipel nilai pasar saham perusahaan publik dengan variabel keuangan fundamental perusahaan yang dinilai se­perti multipel price/earning misalnya. Diaplikasikan key va­luation measures atau market multiple perusahaan publik seperti P/E kepada variabel keuangan fundamental perusahaan yang dinilai.
b.   Metode guideline merger and acquisition, yaitu metode yang menghubungkan multipel nilai dari penjualan seluruh saham atau kepentingan pengendali dengan variabel financial fundamental perusahaan yang dinilai seperti multipel price/earning. Di sini di­aplikasikan multipel transaksi saham pengendali dengan variabel keuangan fundamental perusahaan yang dinilai.
c.   Metode prior transaction, offers and buy-sell agreements, yaitu sua­tu metode untuk mendapatkan estimasi nilai penyerta­an/kepentingan pada suatu perusahaan berdasarkan kepada data yang ada saat itu bagi perusahaan yang dinilai. Dilakukan estimasi nilai berdasarkan transaksi, penawaran sebelumnya, ataupun kese­pakatan mengenai pengalihan kepemilikan perusahaan yang di­nilai.
Konsep nilai multipel didasarkan kepada harga sekuritas yang diperdagangkan secara publik yang dikalikan dengan variabel keuangan fundamental perusahaan yang dinilai seperti pendapatan neto, pretax income, arus kas bruto, Earnings Before Interest and Taxes (EBIT), nilai jual saham, dividen atau kapasitas untuk membayar dividen dan sebagainya untuk menghasilkan estimasi nilai.
Multipel nilai ekuitas yang digunakan adalah:
  1. Price/earnings: Ratio antara harga saham dengan pendapatan neto setelah pajak. Multipel ini paling banyak digunakan. Di sini nilai ekuitas atau MVIC diperkirakan dengan melihat kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba bersih.
  2. Price/gross cash flow: Ratio antara harga saham dengan pendapatan neto ditambah dengan noncash charges seperti depresiasi.
  3. Price/pretax income: Rasio antara harga saham dengan penda­patan neto per saham sebelum pajak.
  4. Price/sales: Rasio antara harga saham dengan hasil penjualan per saham. Di sini nilai ekuitas atau MVIC diperkirakan dengan me­lihat kemampuan perusahaan dalam menghasilkan penjualan (selling power).
  5. Price/book value: Rasio antara harga saham dengan nilai buku ekui­tas.
Multipel untuk kapital yang diinvestasikan:
  1. Market value of invested capital (MVIC) / EBITDA è Adalah rasio atau MVIC dibagi oleh EBITDA.
  2. MVIC / EBIT è Rasio antara MVIC dengan EBIT.
  3. MVIC / Book Value of Invested Capital è Rasio antara MVIC dengan nilai buku ekuitas ditambah dengan sekuritas senior.
Contoh berikut ini diambil dari bahan persiapan ujian penilai usaha yang diselenggarakan oleh Ikatan Profesi Penilai Usaha (IPPUI) pada tanggal 11 dan 12 Mei 2002 di Jakarta.
Implementasi dalam Estimasi Nilai Pasar Ekuitas PT ABC
Tabel 1:  Nilai Pasar Ekuitas

XYZ
PQR
STU
ABC
Jumlah saham biasa (000)
3.554
6.552
7.036
6.500
Nilai pasar ekuitas (NPE) (000)
2,03
1,76
0,82

Harga saham
7.200
11.520
5.700
ADT
Tabel 2: Variabel Keuangan Fundamental

XYZ
PQR
STU
ABC
S
2.846
7.945
2.103
1.200
EBT
735
1.108
576
225
BV
762
3.064
1.351
1.310
Tabel 3: Value Multiples

XYZ
PQR
STU
Mean
Median
P/S
2,53
1,45
2,71
2,23
2,53
P/EBT
9,80
10,40
9,90
10,03
9,90
P/BV
9,45
3,76
4,22
5,81
4,22(*)
(*)Dipilih median karena sebaran cukup besar
Tabel 4: Perhitungan Nilai
Basis Penilaian
Variabel Fundamental
Multiples
Indikasi NPE
Bobot
Bobot tertimbang
NPE
P/S
1.200 X
2,23
2.676,10
0,5
1.338,05
P/EBT
225 X
10,03
2.256,66
0,5
1.128,33
P/BV
1.310 X
4,22
5.527,02
0 (**)

Rata-rata tertimbang Nilai Pasar Ekuitas
2.466,38
(**) Indikasi NPE diabaikan karena memiliki sebaran terlalu besar
Tabel 5:  Diskon, Premi dan Kesimpulan Nilai

Keterangan
Nilai
Indikasi NPE
2.466,05
Diskon untuk lack of marketability
30%
Nilai bila diperdagangkan secara bebas
1.727,47
Premi kontrol (pengendali)
40%
NPE 100% saham ABC
2.417,05
Sedang metode DCF dilakukan dengan mendiskontokan arus income yang diperoleh di masa yang akan datang dengan tingkat diskonto yang mencerminkan cost of capital dan risiko investasi yang dihadapi oleh perusahaan.
Adapun formulanya adalah:
PPh2a
E1,2 dst = pendapatan ekonomis yang diharapkan pada periode 1, 2 dan seterusnya
k           = tingkat diskonto/WACC
n           = jumlah periode dalam periode proyeksi eksplisit/diskresi (mempunyai ciri sendiri-sendiri)
FV        = future value atau nilai terminal, yaitu nilai prospektif pada akhir periode proyeksi dikresi/eksplisit. Bila ada pertum-buhan tetap maka FV = En(1 + g)/(k - g) atau terminal value adalah:
PPh2b
Konsepsi nilai terminal didasarkan kepada anggapan bahwa pada kebanyakan investasi ekuitas adalah untuk selamanya, namun untuk keperluan yang praktis investasi bisa diproyeksikan hanya berlangsung untuk 4 s.d. 10 tahun saja. Nilai sekarang dari ekspektasi arus kas di luar periode tertentu dicerminkan dalam nilai terminal dan mendiskontokan nilai terminal itu menjadi nilai sekarang. Jadi nilai terminal adalah esti­masi nilai pada akhir periode proyeksi eksplisit atau awal dari periode setelah periode spesifik. Oleh karena itu nilai terminal didiskontokan ke dalam nilai sekarang dalam beberapa tahun dalam periode diskresi (eksplisit), bukan dengan (n + 1). Adalah bukan merupakan yang luar biasa jika nilai sekarang pada formula ini bisa memberikan kontribusi separo dari keseluruhan nilai sekarang apabila periode proyeksi terlalu pendek.
Pendekatan aset dalam tulisan ini tidak dibahas karena pendekatan aset atau neraca menuntut kondisi tertentu yang harus dipenuhi oleh perusahaan yang dinilai agar dapat diterapkan.
Dalam penetapan nilai saham IPO Krakatau Steel ini kemungkinan menggunakan pendekatan pasar dengan mengambil multiple dari bursa regional yang bisa dari negara tetangga ASEAN ataupun Asia seperti Korea Selatan, India ataupun China dan pendekatan income dengan metode DCF yang kemudian direkonsiliasi menghasilkan nilai wajar sebesar Rp1.150,00. Dari perhitungan tersebut kemudian diaplikasikan 30% diskon lack of marketability dan discount of minority bagi saham Krakatau Steel tersebut yang merupakan closely held company (perusahaan tertutup) kemudian menghasilkan fair market value (nilai pasar wajar) sebesar Rp850,00. Di pasar sekunder posisi saham tersebut kemudian akan berubah menjadi saham publik dan marketable sehingga bisa mendapatkan capital gain yang menyebabkan nilai saham bisa naik menjadi di atas Rp1.000/saham. Jadi kenaikan harga saham pada pasar sekunder adalah suatu hal yang wajar seiring dengan perubahan status perusahaan, yaitu dari perusahaan tertutup menjadi perusahaan terbuka.
Pajak dalam Proses IPO
Kalau kita simak ketentuan pasal 4A Undang-Undang PPN 1984 yang terakhir diubah dengan Undang-Undang nomor 42 tahun 2009, dalam ayat (2) yang mengatur tentang barang yang tidak dikenai PPn maka pada huruf d dinyatakan bahwa uang, emas batangan dan surat-surat berharga termasuk kedalam jenis barang yang tidak dikenai PPn. Berdasarkan ketentuan tersebut  maka semua transaksi saham baik pada paa perdana maupun pada pasar sekunder itu tidak dikenakan PPn. Namun bagaimana dengan jasa yang terkait dengan proses IPO seperti jasa akuntan, jasa legal, jasa penilaian, jasa underwriter dan juga jasa dalam transaksi saham di bursa seperti yang disediakan oleh broker/pialang, maka semua jasa-jasa tersebut tidak termasuk kedalam jenis jasa yang tidak dikenai pajak sebagiamana diatur dalam pasal 4A ayat (3) sehingga semuanya harus dikenai PPn.
3.      NOPAT
 adalah laba yang diperoleh dari kegiatan operasi perusahaan setelah dikurangi pajak untuk memberikan pengembalian (return) tunai kepada semua penyedia dana untuk modal perusahaan.

Format umum untuk menghitung NOPAT, berikut penyesuaian yang diperlukan adalah sebagai berikut :
Pendapatan/Laba Operasi XXX
Pendapatan Bunga XXX
Ekuitas XXX
Penyesuaian :
Peningkatan penyisihan piutang XXX
Peningkatan penyisihan penurunan nilai persediaan XXX
Deferred Tax XXX
Amortisasi Goodwill XXX
NOPAT XX

4.      Free Cash Flow
Free Cash Flow bagi perusahaan merupakan gambaran dari  arus kas yang tersedia untuk perusahaan dalam suatu periode akuntansi, setelah dikurangi dengan biaya operasional dan pengeluaran lainnya.
Arus kas ini merefleksikan tingkat pengembalian bagi penanam modal, baik itu dalam bentuk hutang atau ekuitas. Free Cash Flow dapat digunakan untuk membayar hutang, pembelian kembali saham, pembayaran dividen atau disimpan untuk kesempatan pertumbuhan perusahaan masa mendatang.
Free Cash Flow (Arus Kas Bebas) dapat dihitung dari laporan arus kas dengan cara sebagai berikut:
FCF = Pendapatan bersih + Depresiasi (Amortisasi) – Perubahan Working Capital (ΔWC) – Pengeluaran modal.
Atau
FCF = Arus kas dari operasional – Pengeluaran modal
Misalnya:
Arus kas dari operasional untuk PT A pada tahun 2004 adalah $1.050.000. Pengeluaran modal pada tahun tersebut adalah $700.000. Berapakah arus kas bebas PT A tersebut?
FCF = Arus kas dari operasional – Pengeluaran Modal
FCF = $1.050.000 - $700.000
FCF = $350.000
Jika free cash flow dari perusahaan adalah positif (FCF ≥ 0) maka keuangan perusahaan dalam kondisi yang baik. Jika Free cash flow perusahaan adalah negative (FCF ≤ 0) dan perusahaan harus mengeluarkan saham untuk menambah modal, hal ini akan mengakibatkan berkurangnya keuntungan per saham dari perusahaan tersebut.
Free cash flow merupakan salah satu indicator untuk mengukur kemampuan perusahaan  untuk mengembalikan keuntungan bagi para pemegang saham melalui pengurangan hutang, peningkatan dividen atau pembelian saham kembali (Yenni Salim).

5.   Market Value Added
Pengertian MVA diungkapkan oleh Sartono(2001) sebagai berikut : kemakmuran pemegang saham dimaksimumkan dengan memaksimumkan kenaikan dari pasar modal perusahaan diatas nilai modal yang disetor pemegang saham.

6.   Economic Value Added
EVA adalah laba operasi setelah pajak dikurangi dengan total biaya modal Stewart (Pradhono, 2004). Beberapa peneliti menyimpulkan bahwa EVA sebagai alat pengukur telah memperhitungkan semua faktor yang berhubungan dengan penciptaan nilai bagi pemegang saham. 
Dengan diperhitungkannya biaya modal atas ekuitas, EVA mengindikasikan seberapa jauh perusahaan telah menciptakan nilai bagi pemilik modal. Sehingga, dapat disimpulkan bahwa EVA merupakan indikator tentang adanya penciptaan nilai dari suatu investasi

7.   Rasio-rasio Lever Rage, sbb:
·      Rasio Hutang
     Berapa besar sebuah perusahaan menggunakan utang dari luar untuk membiayai operasi maupun ekspansi dirinya
     Leverage sering diartikan sebagai pendongkrak kinerja perusahaan dan identik dengan utang.
 Ratio leverage
 rasio utang (debt ratio)
  rasio utang terhadap modal atau debt to equity ratio (DER)

Rasio Leverage : Rasio utang (debt ratio)
Rumusnya:
 total utang dibagi dengan total aktiva
Hasilnya dinyatakan dengan persent.
Semakin rendah rasio utang, semakin bagus kondisi perusahaan itu.
 contoh
PT Ratrinata, jika total utang Ratrinata Rp 25 miliar sementara total asetnya Rp 100 miliar, artinya rasio utangnya adalah 25%.
 Jika rasio utang rata-rata industri barang konsumsi yang digeluti Ratrinata sudah 40%, artinya rasio utang perusahaan ini termasuk rendah.
 Rasio Leverage : rasio utang terhadap modal atau debt to equity ratio (DER)
  Rumusnya:
  membagi total utang dengan total modal
Hasilnya dinyatakan dengan persent.
contoh
Ratrinata memiliki utang Rp 25 miliar, sementara modalnya Rp 75 miliar. Dengan komposisi seperti ini, debt to equity ratio Ratrinata adalah 33%.
Semakin rendah DER perusahaan, semakin bagus kondisi perusahaan tersebut. Para analis menilai, tingkat DER yang aman adalah kurang dari 50%.
·      Rasio EquityRatio
     semakin besar risiko yang dihadapi, dan investor akan meminta tingkat keuntungan yang semakin tinggi. Rasio yang tinggi juga menunjukkan proporsi modal sendiri yang rendah untuk membiayai aktiva. Selain itu kreditur juga mengasumsikan terdapat risiko yang besar dari perusahaan sehingga kreditur dapat saja memberikan bunga yang cukup besar, sehingga kemampuan perusahaan untuk mendapatkan uang dari sumber-sumber luar terbatas.
·      Times Interest Earned
ukuran kemampuan perusahaan untuk menghormati pembayaran utang. Ini dapat dihitung sebagai baik EBIT atau EBITDA dibagi dengan total bunga hutang.
\ Mbox {Times-bunga payah} = \ frac {\ mbox {EBIT atau EBITDA}} {\ mbox {Beban bunga}}
Beban bunga = Secara tradisional "biaya" adalah biaya bunga yang ditemukan pada laporan laba rugi.


·      Debt Service Coverage
dikenal sebagai "rasio utang cakupan," adalah rasio kas yang tersedia untuk pelunasan hutang untuk pembayaran bunga, pokok dan sewa. Ini adalah populer patokan yang digunakan dalam pengukuran (orang atau korporasi) kemampuan entitas untuk menghasilkan cukup uang untuk menutupi utang (termasuk sewa) pembayaran. Semakin tinggi rasio ini, semakin mudah untuk mendapatkan pinjaman. Ungkapan ini juga digunakan dalam perbankan komersial dan dapat dinyatakan sebagai rasio minimum yang dapat diterima oleh pemberi pinjaman; mungkin kondisi pinjaman atau perjanjian. Melanggar perjanjian DSCR dapat, dalam beberapa keadaan, merupakan tindakan standar .
8.      Rasio-rasio Likuiditas, sbb:
a.       Rasio modal kerja neto terhadap total aktiva adalah Modal Kerja untuk rasio Jumlah Aktiva mengukur kemampuan perusahaan untuk menutupi kewajiban jangka pendeknya keuangan ( Kewajiban Lancar ) dengan membandingkan nya Jumlah Aktiva Lancar kepada para Jumlah Aktiva . Rasio ini dapat memberikan wawasan mengenai likuiditas perusahaan, karena rasio ini dapat mengungkap persentase aset sisa cairan (dengan Kewajiban Lancar dikurangi keluar) dibandingkan dengan Total Aktiva perusahaan.
b.      current ratio adalah Rasio lancar merupakan rasio keuangan yang mengukur apakah perusahaan memiliki sumber daya yang cukup untuk membayar utangnya selama 12 bulan ke depan. Ini membandingkan suatu perusahaan aktiva lancar untuk nya kewajiban lancar . Hal ini dinyatakan sebagai berikut:
\ Mbox {Current rasio} = \ frac {\ mbox {Aktiva Lancar}} {\ mbox {Kewajiban Lancar}}
      Sebagai contoh, jika aktiva lancar WXY Perusahaan adalah $ 50.000.000 dan kewajiban lancar perusahaan adalah $ 40.000.000, maka rasio saat ini akan menjadi $ 50.000.000 dibagi dengan $ 40.000.000, yang sama dengan 1,25. Ini berarti bahwa untuk setiap dolar perusahaan berutang dalam jangka pendek memiliki $ 1,25 tersedia dalam aset yang dapat dikonversi menjadi kas dalam jangka pendek. Sebuah rasio lancar aset untuk kewajiban sebesar 2:1 biasanya dianggap dapat diterima (yaitu, aset Anda saat ini dua kali kewajiban Anda saat ini).
c. Quick atau acid test ratio adalah tes yang paling berlebihan dan sulit dari kekuatan keuangan perusahaan dan likuiditas

9.      Rasio-rasio Profitabilitas, sbb:
a.        Rentabilitas ekonomi adalah akuntansi manajerial konsep yang mempertimbangkan seberapa baik kinerja sebuah bisnis oleh, antara lain, dikurangi biaya modal perusahaan dari keuntungannya. Apa yang tersisa dikenal sebagai laba ekonomis, dibandingkan dengan laba akuntansi akrab yang muncul pada laporan laba rugi perusahaan, dan beberapa orang percaya ini membuktikan seberapa baik perusahaan menggunakan modal untuk membangun nilai ekonomi. Manajer, pada gilirannya, menggunakan informasi ini untuk menyebarkan sumber daya perusahaan dengan cara yang meningkatkan nilai ekonomi
b.      Rentabilitas modal sendiri/return on equtity adalah modal yang muncul dalam semua mereka sebagai modal uang dalam arti sempit, sebagai modal pinjaman yang dapat ditarik setiap saat, dalam bentuk uang, dari yang saat ini komitmen. Bahkan di mana kombinasi ini tidak terjadi di sebuah perusahaan tunggal, masih sampai batas tertentu modal uang yang sama yang melakukan semua fungsi berbagai sebab satu perusahaan membuatnya tersedia untuk orang lain. Hanya setelah analisis dari berbagai fungsi apakah mungkin untuk menyelidiki sumber dari mana modal bank menarik keuntungan, dan struktur hubungan, dalam bidang ini, antara keuntungan dan modal (baik modal sendiri bank dan modal lainnya yang telah di pembuangan nya).
c.       Return on investment adalah analisis merupakan satu dari beberapa yang umum digunakan metrik keuangan untuk mengevaluasi konsekuensi keuangan dari investasi bisnis, keputusan, atau tindakan. Analisis ROI membandingkan besarnya dan waktu keuntungan investasi langsung dengan besarnya dan waktu biaya investasi. Sebuah ROI yang tinggi berarti bahwa keuntungan investasi baik dibandingkan dengan biaya investasi.
d.      Profit margin adalah Profit margin, net margin, margin laba atau rasio laba bersih semua mengacu pada ukuran profitabilitas . Hal ini dihitung dengan mencari laba bersih sebagai persentase dari pendapatan . [1]
\ Mathrm {Bersih \ keuntungan \ Margin} = {\ mathrm {Bersih \ Penghasilan} \ over \ mathrm {Pendapatan}} \ times {100}
dimana Laba Bersih = Pendapatan - Biaya
Margin keuntungan ini sebagian besar digunakan untuk perbandingan internal. Sulit untuk secara akurat membandingkan rasio laba bersih untuk entitas yang berbeda. Operasi bisnis individu dan pengaturan pembiayaan bervariasi sehingga entitas yang berbeda terikat untuk memiliki berbagai tingkat pengeluar
e.       Perputaran aktiva adalah Asset turnover adalah rasio keuangan yang mengukur efisiensi penggunaan perusahaan dari perusahaan aset dalam menghasilkan pendapatan penjualan atau pendapatan penjualan kepada perusahaan. [1]
Perusahaan dengan margin keuntungan yang rendah cenderung memiliki asset turnover tinggi, sementara mereka dengan margin keuntungan yang tinggi memiliki asset turnover rendah. Perusahaan di industri ritel cenderung memiliki rasio turnover yang sangat tinggi terutama karena harga kejam dan kompetitif.

\ Mbox {Perputaran Aset} = \ frac {\ mbox {Bersih Penjualan}} {\ mbox {Total Aktiva rata-rata}}
  • "Penjualan" adalah nilai dari "Penjualan Bersih" atau "Penjualan" dari perusahaan laporan laba rugi
  • "Jumlah Aktiva Average" adalah rata-rata nilai-nilai "Total aset" dari perusahaan neraca pada awal dan akhir periode fiskal.
f.perputaran piutang adalah ukuran likuiditas perusahaan AR aset. Biasanya, semakin tinggi perputaran, semakin menguntungkan itu.
g. perputaran persediaan adalah ukuran jumlah persediaan kali dijual atau digunakan dalam jangka waktu seperti satu tahun. Para persamaan untuk perputaran persediaan sama dengan harga pokok penjualan dibagi dengan rata-rata persediaan . Perputaran persediaan juga dikenal sebagai perputaran persediaan, stockturn, ternyata saham, bergantian, dan omset saham.
10.  Rasio-rasio Nilai Pasar, sbb:
a.       Price earning ratio adalah dari saham (juga disebut dengan "P / E", atau hanya "beberapa") adalah ukuran dari harga yang dibayarkan untuk saham relatif terhadap tahunan laba bersih atau keuntungan diterima oleh perusahaan per saham. [2] Rasio P / E sehingga dapat dihitung secara agregat dengan membagi perusahaan kapitalisasi pasar dengan total pendapatan tahunan.
b.      Market to book value ratio adalah rasio keuangan digunakan untuk membandingkan perusahaan nilai buku dengan harga pasar saat ini. Perhitungan dapat dilakukan dengan dua cara, tetapi hasilnya harus menjadi cara yang sama setiap. Pada cara pertama, perusahaan kapitalisasi pasar dapat dibagi dengan nilai buku total perusahaan dari perusahaan neraca . Cara kedua, menggunakan per saham nilai-nilai, adalah dengan membagi harga saham saat ini perusahaan dengan nilai buku per saham (yaitu nilai buku dibagi dengan jumlah saham beredar).




Tidak ada komentar:

Posting Komentar

dilarang memakai kata" kotor.....